Jumat, 02 September 2011

TUNTUTAN DAN DUKUNGAN, SUMBER ENERGI BAGI ORGANISASI

Pada hakekatnya, eksistensi (keberlangsungan) suatu organisasi sangat tergantung pada energi yang diterima. Energi atau yang lazim disebut sebagai input (masukan) ini dapat dibedakan sebagai tuntutan dan dukungan. Apabila energi itu diterima dalam keadaan seimbang, organisasi dapat menjalankan tugas-tugas (fungsi-fungsi)-nya dan akan sukses menggulirkan output (keluaran) berupa keputusan atau kebijaksanaan yang diharapkan oleh masyarakat dan lingkungan.
                Apakah yang dimaksud dengan tuntutan dan dukungan? Tuntutan selalu mengacu pada kelangkaan sumber dan keterbatasan kemampuan untuk mendapatkan sumber yang dimaksud. Sebagaimana kita ketahui dalam masyarakat terdapat kebutuhan yang hendak dipuaskan, misalnya saja kebutuhan intelektual, politik, sosial, ekonomi dan sebagainya. Berdasarkan kebutuhan itu masyarakat membentuk organisasi yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan mereka secara memuaskan. Dengan kata lain, masyarakat menuntut organisasi yang dibentuknya itu, untuk memenuhi kebutuhan mereka di bidang tertentu.
                Dukungan pada intinya adalah setiap energi kontribusi (sumbangan) yang diberikan oleh lingkungan terhadap organisasi. Jika mendapat dukungan yang cukup, organisasi akan dapat melaksanakan tugas-tugas (fungsi-fungsi)-nya dengan baik. Dukungan yang dimaksud, tidaklah semata-mata dukungan nyata yang tampak dari luar, tetapi juga dukungan dalam bentuk tingkah laku “batiniah” berupa pandangan,  atau suasana pikiran. Suasana pikiran yang mendukung merupakan suatu kumpulan sikap atau kecenderungan yang kuat, atau kesediaan untuk bertindak demi orang lain. Hal ini dapat terkesan secara jelas melalui kesetiaan seseorang pada suatu organisasi, keterikatan seseorang pada suatu asas, atau semangat juang yang tampak.
                Bagaimana relevansinya dengan Badan Pekerja Daerah Gereja Bethel Indonesia Sumatera Utara yang kita cintai? Barangkali pemaparan singkat di atas dapat dijadikan sebagai alat menganalisis apa yang terjadi di BPD-GBI Sumut sebagai sebuah organisasi. Tidak berbeda dengan organisasi lainnya, eksistensi (keberlangsungan) BPD-GBI Sumut sangat tergantung pada tuntutan dan dukungan yang berasal dari lingkungan internal dan lingkungan eksternalnya. BPD-GBI Sumut akan suskses dalam menjalankan tugas (fungsi)-nya apabila mendapat tuntutan dan dukungan yang seimbang. Bahwa harapan (kata lain, tuntutan) agar BPD-GBI Sumut  memberdayakan, menyemangati, dan mensinergikan lingkungan internal (baca: masyarakat GBI di Sumatera Utara) dan lingkungan eksternalnya (pemerintah dan masyarakat pada umumnya) akan tercapai apabila mendapat dukungan yang cukup.
                Dalam hal ini, dukungan yang diharapkan mengalir secara internal ke BPD-GBI Sumut tidak hanya berupa tingkah laku batiniah, misalnya keyakinan terhadap Alkitab dan Tata Gereja, pemahaman terhadap ajaran dasar GBI, semangat untuk mendirikan/membentuk jemaat baru, semangat untuk menduduki posisi organisasi, keterlibatan dalam even-even tertentu (seperti keikutsertaan dalam acara sidang majelis daerah), kesediaan memberikan saran/pandangan yang membangun, dan kesediaan untuk mengaplikasikan pengakuan iman pada kehidupan sehari-hari. Tetapi juga tidak kalah penting, dukungan ril berupa tindakan memberikan iuran pejabat,  ekstra kolekte dan sumbangan lainnya secara tepat dan teratur.
                Untuk mengukur dukungan berupa tingkah laku batiniah yang didapatkan oleh BPD-GBI Sumut memang relatif lebih sulit. Hal ini terutama karena instrumen yang mampu mengukur dukungan berupa tingkah laku batiniahnya belum pernah dibuat secara konkrit. Oleh karena itu, tulisan ini juga merupakan wacana dan sekaligus sebagai tantangan kepada lingkungan internal GBI Sumut khususnya dan GBI  pada umumnya, agar menciptakan sebuah instrumen untuk mengukur, indikasi apa yang kita dapatkan sehubungan dengan isu dukungan terhadap organisasi (baca: GBI). Dan lebih jauh, apakah warga GBI benar-benar setia kepada Tuhan, Alkitab, Tata Dasar, Pengakuan Iman, Ajaran Dasar, dan organisasi (BPH, BPD, BPW dan Jemaat lokal)? Perlu dirumuskan norma-norma, asumsi dasar, indikator-indikator, analisis dan kesimpulannya.
                Kembali pada masalah dukungan di atas. Bagaimana dengan dukungan ril berupa tindakan memberi iuran pejabat, ekstra kolekte, dan sumbangan lainnya? Ini memang relatif lebih mudah untuk diukur. Kita tinggal memproyeksikan angka-angka dari data yang tersedia. Sebagai contoh untuk tahun anggaran 2009/2010, BPD-GBI Sumatera Utara membutuhkan dukungan (berupa dana) sebesar Rp 144.200.000. Sebenarnya angka ini cukup kecil dibandingkan organisasi BPD-GBI Sumut yang relatif besar dan menurut opini masyarakat adalah organisasi kegerejaan yang ‘kaya’.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar